Archive for March, 2008
Mang…mang…becak
wahai para pengguna jasa becak dengarkanlah kisah ini
“seorang ibu hamil yang sedang mengandung 7 bulan dan seorang anaknya yang masih balita ditemukan tewas di sebuah gubuk reyot tempat tinggalnya, dikarenakan belum makan selama tiga hari. setelah diselidiki suaminya mengaku tidakmampu membiayai hidup keluarga mereka dikarenakan pengahasilannya sebagi tukang becak hanya 5000 per-hari”
“Budi (bukan nama sebenarnya) ditemukan tewas gantung diri dikamarnya, karena malu dengan teman-teman dan gurunya, sudah hampir 3 bulan budi belum membayar spp”
astaghfirullah…..saya jadi teringat percakapan sore itu di sebuah komplek, sepulang kuliah…
tokoh MW :mawar,21 tahun MB: mang becak
MW : punten mang (sambil memberikan beberapa lembar uang serebuan 3)
MB : yah neng…..kalo segini mah kurang,….. seribu lagi
MW : lo..mang biasanya juga kan 3000
MB : ga bisa neng, yang deket aja bayarnya sama segitu
MW : ga ah mang…kok naek sih?..biasanya juga ga segitu
MB : yaudah, kalo neng ga mau nambah 1000 lagi, ga usah bayar aja sekalian (sambil meletakkan uangnya)- si emang pundung euy
saat itu kondisinya..pakeukeuh-keukeuh ga da yang mau ngalah, saling mempertahankan pendapatnya masing2…pada keduanya bagaikan ada bara api yang mencuat hebat, siap menerjangsatu sama lain…
MB : kalo ga mau bayar, yaudah, neng ga usah naek becak saya lagi
MW : (dengan ke tidak ikhlasan dan ketidakadilan akan harga) ni…mang ambil 1000 lagi… (sambil bertekad dalam hati: saya emang ga kan naek becak mang lagi-dalam keadaan susah maupun senang, badai maupun terik, ada duit ato banyak duit)
dalam lamunan, hati ini sedikit menyesal, kenapa duitnya ga dikasih aja dengan ikhlas, toh 1000 ini, bagi beliau mungkin akan sangat berarti bagi mang becak dan keluarganya…nampaknya harga gengsi lebih besar dari itu..menyesal selalu di akhir
apa hubungan cerita pertama dan kedua?
1000 bagi kita mungkin bukan apa-apa, tapi
1000 bagi mereka adalah kehidupan
———————————————————————————
nb: namun tekad untuk ga naik becak lagi sudah mengakar dalam hati (mending jalan aja, sekalian olah raga, walopun diameter betis kan melebar)
