RSS

Baligo Ukhuwwah

16 Jul

cerita ini tentu saja nyata,  rencananya mau dimasukin ke Buku Gamasi Apa Saja :)

Apa yang tersirat di kepala teman-teman bila mendengar kata baligo? Saya ulangi sekali lagi ba-li-go, sekali lagi?  B-a-l-i-g-o, lagi? udah ah cape. Yup selama ini, doski (baligo.red) ga pernah absen dan selalu menjadi andalan tempur dalam ajang publikasi sebuah acara. Bagi saya, baligo telah menyiratkan sejuta kenangan manis dalam mengarungi kehidupan di Gamais. Baligo tersebut dinamakan baligo ukhuwwah. Mmmmh…ada skandal apa antara baligo dan ukhuwwah? Apa sesungguhnya baligo ukhuwwah itu?Sedahsyat apa kemunculannya ke bumi ini? Bagaimana kejadiaanya saat ituSiapa dalang dibalik semua ini?Sampai kapan pertanyaan ini selesai? Kisah ini terjadi saat liburan semester ganjil, sewaktu saya duduk dibangku kuliah tingkat 2, saat masih lucu-lucunya (hoalah?!). Liburan saat itu status saya semi-jobless, alias dapet kerjaan-selesai-nganggur-kerja-selesai-nganggur-kerja-hosh..hosh..317x. Yup, begitu seterusnya, hingga pada suatu hari nan cerah di masjid Salman, saat burung-burung saling bercengkrama, pohon-pohon menari riang, dan semut-semut berbaris di dinding. Teman baik saya – sebut saja Mawar 19 tahun – eh…jangan deh, panggil saja Eling – mahasiswi jurusan penerbangan, satu departemen dengan saya di Gamais, datang mendekati saya, kondisi saya saat itu pada fase ”ajebh-ajebh” alias sutres sama kerjaan sendiri. Dengan senyuman yang khas, Eling bertanya, ”Ukh, ikut jadi panitia GSC yuk?”. ________________________________________________________________________Sekedar info; GSC (Gamais Super Camp) merupakan salah satu kegitan Gamais untuk mahasiswa tingkat satu. Acara ini berlangsungdi awal tahun 2007di Kampus Unisba II Ciburial.  ­­­­­­­­­­­­________________________________________________________________________       Dan saya pun terhenyak, diam tak bergeming, mendengar pertanyaan dari Eling. Karena jauh hari sebelum eling bertanya, awalnya saya sudah berfikir untuk tidak ikut bergabung dalam kepanitiaan GSC. Dan sempat berkata ’nehi-nehi pyar kahe’ dalam hati, salah satunya dikarenakan kondisi kerjaan yang lagi megap-megap tadi. Namun, semua itu lluh seketika setelah melihat semangat sahabat saya yang satu ini, Eling si anak Bengkulu. Selama ini makhluk yang satu ini (Eling.red) memang punya semangat yang tak henti-hentinya (non stop spirit lah pokoknya) dan akhirnya saya ketularan semangatnya, hati saya terenyuh dan saya pun mengiyakan ajakan sobat saya tadi. Siapa tahu dengan dapet kerjaan bisa melepas stres (prinsip macam mana pula).________________________________________________________________________Info1: Pernah denger bahwa menguap itu menular, kan?. Hampir sama halnya dengan menguap semngat pun bisa menular dan ditularkan lho!. Guru seni rupa saya dulu sewaktu di SMA, pernah bercerita bahwa, seseorang yang sedang bersemangat dapat menularkan semangatnya ke orang lain, dalam artian orang lain tersebut jadi ikut bersemangat. Hal ini dikarenakan satu orang yang sedang dalam keadaan semangat menggebu-gebu, maka dia mempunyai banyak energi positif disekelilingnya. Energi posif tersebut bisa tertular ke lingkungan disekitarnya. Subhanalah.___________________________________________________________________ Sudah bisa ditebak kelanjutan ceritanya, akhirnya saya dan Eling bergabung dalam barisan pejuang GSC, yang saat itu dipimpin oleh pembina upacara eh.. dipimpin oleh Akh Gamma A P dan Ukh Wiwit sebagai koordinator akhwatnya. Wiwit tuh, perhatian banget ama kondisi antek-anteknya, padahal sebelumnya saya pikir beliau orangnya cuek dan sedikit bumbu galak, ternyata semua itu salah, hal ini akan saya buktikan kemudian. Pada intinya, saya dan Eling masuk di divisi yan berbeda, karena keterbatasan SDM. Eling masuk di div.logistik (maklum, beliau memang ATP-Akhwat Tanguh dan Perkasa) sedangkan saya lebih memilih untuk berlaga di kancah div.pubdok (publikasi dokumentasi). Pemkiran pertama bergabung dalam div.pudok adalah ”pubdok?!, paling-paling bikin pamflet, poster publikasi, jepret-jepret, beres kan?” ________________________________________________________________________Peringatan pertama

Hindari paham takaburisme, dalam memulai kepanitiaan, berbahaya bagi kelangsungan hidup dan profesi   

 Dan perjuangan pun dimulai… Seperti yang sudah kita ketahui, kalau KB (Keluarga Berencana) punya prinsip ”dua anak cukup”, div.pubdekdok cukup bangga dengan prinsip ”dua kader cukup”; dengan beranggotakan dua orang satu ikhwan dan satu orang akhwat, dan satu orang akhwat itu adalah saya. Bukan karena teman-teman yang lain alergi dengan ke-pubdok-an, tapi karena saat itu kondisinya lagi libur kuliah, walaupun masih ada beberapa yang ujian, namun sebagian besar sudah banyak yang pulang kepangkuan ibu pertiwi alias pulang kampung. Awal perjuangan ini saya lalui degan gundah gulana dan resah di jiwa, bawaannya pesimis terus. Saya cuma sendiri? Anggotanya Cuma dua orang? Mau ngapain duaan? Main conglak?. Tapi dibalik semua itu, yang slalu membuat semangat saya kembali karena Wiwit yang tidak bosan memberikan semngat dan tak segan-segan membantu, ditambah lagi Eling yang akhirnya masuk di div.pubdok sebagai anggota virtual dalam artian ikut membantu tapi status tidak terikat (?!). Perjuangan terus berlanjut…    Saat itu GSC membutuhkan beberapa media publikasi, antara lain; pamflet, laeflet, poster hingga baligo. Setelah melewati beberapa kali rapat, disepakati bahwa Ikhwan akan membuat leaflet, pamflet dan poster, sedangkan kubu Akhwat membuat baligo.________________________________________________________________________

Perlu diperhatikan: kata ’membuat’ pada kalimat: ”sedangkan kubu akhwat membuat baligo”

 Kata ’membuat’ disini bemakna : melakukan pembuatan (baligo) dan bukan memesan atau meminta tolong orang lain untuk membuatnya. Yup, hal ini terkait masalah keuangan dalam rangka menghemat pengeluaran dana. Optimisme yang sudah terbangun sejak awal mulai rontok, sempat berfikir untuk berhenti. Tapi melihat Eling, Wiwit dan akhwat-akhwat lainnya yang masih teuteup semangat, never ending spirit, ya… smnagat lagi. Lagian kan acara tanpa publikasi bagaikan katak dalam tempurung, ga kelihatan. Hehe. Semangat..semangat..317x. Hari ke-1Perencanaan:Konsep Desain: baligo yang dibuat adalah baligo sederhana yang terbuat dari bahan kain spanduk dan didalmnya akan diisi dengan pemberitahuan tentang GSC. Alat dan Bahan: kain spanduk (5x6m) – waw, 1 kaleng cat tembok (merek bebas yang penting halal), 1 botol cat bibit warna kuning dan biru (kuing+biru= hijua, karena yang dibutuhkan hanya warna hijau, sekali lagi hemat dana), 3 buah kuas (lebih baik beda ukuran, kecil dan besar), gelas pelastik bekas (ubtuk wadah cat), koran bekas, kain lap ditambah dengan segalon percaya diri, sebakul semangat, 100% niat yang ikhlas dan sesisir pisang (?!) kalo lagi laper, semuanya dipadukan manis dalam satu komposisi baligo GSC.
Pembagian tugas: ikhwan : sketsa desain + beli kain spaduk, akhwat : cari peralatan perang; kuas, kain lap, koran bekas, beli cat tembok dan cat bibit)
 Siangnya sketsa desain dan kain spanduk sudah siap; saatnya eksekusi!.. Siapa yang melakukan? Saya dan Eling saja? Jangn salah, bukan Gamais namanya, kalo tidak melakukan sesuatu sama-sama. Saya dan Eling dibantu oleh semua squad GSC, div.logistik, div.acara, div.konsumsi, Wiwit sang korwat (koordinator akhwat) hingga yang tidak tergabung dalam kepanitiaan pun semua ’turun gunung’ ikut membantu. Siang itu setelah asyik ”shopping” ke balubur (tempat penjualan alat tulis terkemuka dan termurah di kawasan kampus) untuk membeli peralatan perang; cat, kuas dan kawan-kawan, saya dan Eling langsung meluncurke lokasi pembuatan, yaitu di taman Ganesha; taman asri yang terletak di depan kampus ITB dan di sebelah masjid Salman. Di taman Ganesha, ya taman Ganesha, disanalah sejarah mulai diukir. Sesampainya disana kami mencari spot yang oke punya, agar kain baligo mudah dibentangkan. Beberapa menit kemudian spot yang oke punya tersebut akhirnya kami dapatkan. Mulailah kami membentangkan baligo. Jedang..jedang… wuaaaaaaaaaaahhh… ternyata 6×5 meter itu besar sekali., ”terkejut aku dibuatnya”. Dzikir dalam hati dan tetap menyemangati diri sendiri.   Tantangan pertama:Tahap selanjutnya adalah membuat sketsa, dari sketsa yang ada di kertas A4 ke baligo yang berukuran 6×5 meter, cukup sulit, dibutuhkan ketabahan dan  feeling yang kuat untuk memperkirakan setiap garis yang ditorehkan. Hari pertama pembuatan, output 90% sesuai dengan sketsa yang ada, namun karena banyak faktor, hari kedua produk akhir 70% meleset dari sketsa (tapi masih punya tujuan yang sama lho). Saya jadi teringat perkataan dosen seni rupa saya, bahwa dalam berkarya sketsa merupakan sesuatu yang sangat penting, namun output atau produk akhir jarang sekali ada yang mendekati 100% dari sketsa, selalu ada perubahan terutama pada proses pelaksanaan. Oleh karena itu, hampir semua dosen seni rupa tidak pernah menilai dari produk akhir mahasiswanya, proses produksi jadi salah satu faktor penting juga. Allah pun tak selalu menilai dari hasil akhir kita kan?. Ya baligo ini bernasib sama, proses adalah pengalaman terindah bagi kami, tim baligo.  Kembali pada baligo, keadaan baligo bagian atas sudah selesai di sketsa di kain, prosesnya langsung masuk pada pengecatan (walupun belum semua di sketsa). Hal ini disebabkan karena, sudah banyak akhwat yang datang membantu (kami banyak dapat pasokan akhwat yang rela membantu), dan mereka mengaku ’gatel’ pengen ngecat. Mereka berebut untuk membantu, padahal logistik tipis, kuas yang ada terbatas. Akhirnya aksi pinjam meminjam ke unit-unit di Salman pun dilakukan. Usaha berhasil setelah, mengobrak-abrik sekretariat tetangga. Dan usaha pengecatan pun dilanjutkan.  Tantangan kedua:Langit yang cerah, seketika kelam, menampakkan gejala-gejala hujan kan turun. Mungkinkah langit juga ikut terharu seperti hatiku (halah). Dan benar saja, satu persatu butiran air hujan turun kebumi, kemudian disusul oleh rombongan hujan.Waaaaaaa….itu pertanda kita harus minggat dari taman Ganesha, mencari tempat yang aman. Akhwat pun bergotong-royong membawa kaleng cat, koran dan kain baligo yang masih basah dari cat. Dengan sedikit berlari, gotong sana, gotomg sini, kamipun memilih satu tempat dibelakang kantin salman, di depan sebuah bank ’piiiiiip’ (bank terkemuka di bandung), yang dimana tempatnya cukup luas dan aman, untk kami beraksi kembali. Untuk menjaga kebersihan, kain bailgo sebelum dicat, bagian bawahnya dilapisi koran terlebih dahulu.  Dan proses pengecatan pun terus berlanjut, hingga menjelang sore. Baligo sudah belum menampakkan gejala kehidupan alias belum berbentuk karena baru mencapai angka 20%. Saya salut dengan akhwat-akhwat yang datang, mereka berani kotor dari goresan cat, meluangkan waktu untuk itu, padahal saya tahu sebagian dari mereka masih ada yang esok harinya harus ujian dan beberapa masih punya amanah lain. Hati ini terharu bila mengenangnya. Hari pertama pembuatan baligo diakhiri dengan ucapan hamdalah, istighfar dan do’a akhir majelis (ini selesai buat baligo atau selesai rapat?!). Alhamdulillah, perjuangan dilanjutkan esok hari, kami berjanji ditempat yang sama.   Hari keduaPagi-pagi ditempat kemarin sore, sudah ada tiga akhwat standby, melakukan aksi pengecatan. Kami pun berbagi tugas, ada yang meng-sketsa, ada yang mengecat dan ada yang meramu catnya. Taklama setelah itu, dua akhwat yang lain datang membantu. Kali ini jumlah pasuka ada lima orang. Seperti biasa, yang namanya makhluk bernama akhwat kalo sudah ngumpul, tahu sendiri, seru banget, sambil bekerja sambil cerita. Dari sana saya banyak tahu lebih dalam tentang teman-teman saya, yang selama ini hanya bertemu saat rapat atau bertegur sapa di jalan.  Sebelum siang, baligo sudah mulai menampakkan kejelasan wujudnya, akhwat-akhwat pu semakin ahli menggoreskan kuas diatas kain, ajang bertukar cerita pun terus berlanjut dan kamipun tidak terlalu perduli dengan orang yang lalu-lalang sedari tadi. Namun tiba-tiba datang seseorang dari kejauhan, kami tidak mengenalnya, sepertinya pegawai Salman. Beliau adalah seorang bapak, datang dan berkata dengan tregas: ” Siapa yang mengizinkan kalian bekerja disini?”. ________________________________________________________________________Peringatan Ketiga:kalo mau bikin sesuatu yang membutuhkan space besar (baligo.red) hendaklah mencari tempat yang benar-benar aman, nyaman dan cukup luas. Satu hal yang tidak boleh dilupakan, izin dar penghuni setempat________________________________________________________________________  Seketika kamipun terhenyak. Bapak itu berkata lagi: ”Sebaiknya kalian pindah tempat dan jangan lupa tempat ini dibersihkan”, kurang lebih seperti itu. Keadaan saat itu, sunyi sekejap, kami diam saling melirik. Bapak tersebut akhirnya pergi berlalu, setelah hilang di balik tembok, kami yang masih terdiam dan membantu tak ada tanda-tanda kehidupan. Lima detik berlalu, kami buru-buru membereskan ”alat-alat perang”, menggulung spanduk (yang masih basah) dan membersihkan goresan-goresan cat di lantai. Hal kedua yang kami lakukan adalah mobilisasi secepat-cepatnya dari sana. Tempat tujuan kami saat itu adalah kampus tercinta. Kegiatan gotong-menggotng pun dilakukan, 10 menit setelah kejadian mengenaskan (lebih tepatnya memalukan) kami sampai di tempat tujuan. Tempatnya luas, tidak banyak orang (karena libur) dan terlihat aman, tidak perlu perizinan khusus untuk memakainya. Setelah merasa benar-benar aman (jujur, saat itu saya benar-benar dalam kondisi syok berat), kami melanjutkan pekerjaan, mengecat baligo. Akhwat-akhwat bekerja sambil bercengkrama, sesekali menceritakan kejadian tadi, hehehe, pokoknya yang penting kompak. Perjuangan berlanjut, kagiatan cat-mengecat berlanjut pula, akhwat-akhwat masih bercengkrama, tanpa tahu bahwa sesuatu yang ga kalah hebohnya akan terjadi. Sepuluh menit berlalu, kami beru menyadari telah datang cobaan berikutnya. Tantangan ketiga:Angin kencang!. WuiiiiiizzMenerbangkan sebagian kain baligo. Kami tak mau kalah, bertarung dengan angin. Solusi terakhir yang kami pilih untuk mengatasi ini adalah mengorbankan tas, jaket, kaleng cat dan beberapa pemberat lainnya untuk di taruh disetiap sisi-sisi baligo. Cara ini cukup ampuh, namun sesekali angin masih dapat mengecoh perhatian kami, terkadang kain yang catnya masih basah tertiup angin dan menimpa kain dibawahnya, sehingga menimbulkan bercak-bercak hijau tak menentu. Yang seharusnya putih kini kain itu telah tergores oleh cat hijau!!!. Arggh… Disnilah kreativitas kami dipertaruhkan. Akhwat ga mau kalah, akhirnya bagian yang terkena bercak tadi, kami beri gambar dan sedikit sentuhan seni. Ha..ha..ha.. Terimakasih ya Allah, bila Engkau telah memberikan angin yang kencang, bila tidak, kapan lagi kreativitas kita diuji J Hingga menjelang sore, baligo mencapai angka 70%, walaupun hasilnya sedikit terilhat abnormal (murni pendapat pribadi), tapi saya yakin baligo ini akan menjadi baligo besejarah yang melegenda hingga nanti Gamais merayakan miladnya yang ke-589. Sore itu, saya tidak bisa melanjutkan perjuangan ini hingga selesai, dikarenakan ada amanah lain menanti. Akhirnya saya mendelegasikan tugas ini selanjutnya pada Eling. Berat rasanya meninggalkan teman-teman melajutkan berkarya. Disana tersisa empat akhwat, dan tidak ada satupun anggota divisi pubdekdok GSC, karena satu angotanya sudah pulang, yaitu saya sendiri. Sungguh saya   tidak dapat berkata apa-apa saat semua akhwat disana berkata : ”Ga apa-apa kok ukh, biar sisanya diselesaikan sama kami saja”. Suasana mengharu biru, saya yang tidak tega meninggalkan mereka, dinyakinkan selalu oleh mereka bahwa mereka kan baik-baik saja…..aaaaaa, tak usah kau tangisi pergi muuuuuu (lho kok jadi nyanyi?). Saya pun pergi dengan berat hati. Setelah amanah yang lain itu selesai, sepulang dari kampus, malam harinya saya menelpon Eling. Menanyakan keadaan beliau dan baliogo tentunya. Eling bercerita bahwa baligo-nya sudah selesai, tapi finishing touch-nya diserhakan pada ikhwan-ikhwan yang ada, sebab tadi waktu selesainya bertepetan dengan adzan Magrib. Alhamdulillah, akhirnya selesai juga, dalam hati, karena besok merupakan deadline-nya, saya percaya saja sama ikhwan-ikhwan yang ada. Biarkan jiwa seni mereka bermain, pikir saya. Eling juga bercerita bahwa ’bercak-bercak cat semakin lama semakin meluas, karena kian sore angin kian dahsyat. Yah, tidak apa-apa lah, yang saya khawatirkan sebenarnya bukan baligo, tapi teman-teman akhwat yang bekerja hingga sore hari. Tapi kata Eling mereka tetap tampil prima hingga sore dan tidak ada masalah yang cukup berat. Subhanalah, saya baru menyadari bahwa kami bisa membuat baligo dalam jangka waktu 2 hari!, dan meghemat pengeluaran dana untuk publikasi.  Alhamdulillah, pembuatan baligo sudah selesai, beberapa hari setelah hari eksekusi, akhirnya baligo tersebut di pasang. Dengan gagah baligo berdiri, menantang teriknya mentari dan derasnya hujan. Walaupun pakai acara jatuh atau rubuh berkali-kali namun pasukan ikhwan selalu sigap mendirikannya kembali. Sama seperti umur pembuatannya, umur pendirian baligo pun hanya dua hari, karena setelah itu harus dibawa menuju tempat acaradi ciburial, disanalah sang baligo kembali menemukan hidupnya.  Saya akui memang hasilnya tidak sebaik pada umumnya, bahkan ada yang berkata: ”oh itu baligo toh”, ” whuaaaaaa…..hiks..hiks.. tapi bagi saya baligo tersebut punya banyak arti. GSC sendiri diikuti oleh seratus orang lebih mahasiswa tingkat satu, saat itu, sebuah angka yang luar biasa. Namun saya rasa itu bukan karena sebuah baligo, tapi karena berkah Allah yang ada pada baligo tersebut (hahahahahaha). Hal yang paling berkesan bagi saya di kepanitian GSC saat itu adalah kepanitiaan yang ruhiyah-nya benar-benar terasa, terdengar klise sih, tapi itu benar adanya. Hal lain yang paling berkesan dari GSC tentu saja baligo-nya. Saya menamakannya dengan baligo ukhuwwah, karena dari sanalah ikatan persahabatan saya dan teman-teman akhwat semakin erat, dari sanalah saya mengenal teman-teman saya lebih dalam, dan dari sanalah saya merasakan bahwa saya tidak sendiri seperti yang di bayangkan pada awal, ketika dilakukan bersama-sama dan saling menularkan semangat semuanya kan terasa ringan, karena kita adalah keluarga.  TERIMA BIKIN BALIGO untuk berbagai acaraHub: akhwat-akhwat Gamais J Morinta Rosandini081320682156iniimelmorin@yahoo.commorin@students.itb.ac.idkordinator akhwat Departemen Syiar Multimedia Gamais ITBmahasiswa Kriya Tekstil ITB 2005

 
4 Comments

Posted by on July 16, 2007 in Yang Seru

 

4 responses to “Baligo Ukhuwwah

  1. Deri

    February 13, 2008 at 10:08 am

    panjang kali artikelnya

     
  2. julian87143

    February 14, 2008 at 8:12 am

    Kayaknya dulu saya pernah baca cerita ini, kalo ga salah di bukom DSM (dalam versi yang mudah di baca, he he, no offense) Kalo apapun yg kita lakukan membuat kita merasa lebih dekat kepadaNya, rasanya semua rasa capek, kesel, dan pegel-pegel hilang…

     
  3. ardee'est thing in my life

    March 17, 2008 at 2:37 am

    Yang ini serius… Nampolll abis ceritanya… hehehe
    gaya ceritanya unik pisan… salut lah
    wassalamualaikum

     
  4. ayyash

    November 8, 2008 at 4:04 pm

    hwahahahahahahahahahahahahahaha….!!!! aduh mor, gak kuat baca ceritamu mor!

    aku bukukan ya?! serius nih! kalau udah ada sekitar 30 postingan kasih tahu saya. Saya jadi promotornya. Serius. Nanti bawa ke penerbit. Kita terbitkan. lebih bagus dari raditya dika mor…!

    wekekekekkekeekkkek!

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: