RSS

PORNOGRAFI PORNOAKSI DAN PERADABAN INDONESIA

16 Jul

  Dua tahun yang lalu, tepatnya di bulan September tahun 2005, menjadi bulan yang tragis bagi salah satu aktor ibu kota, Anjasmara dan satu rekannya Isabel Yahya, yang statusnya resmi menjadi tersangka dalam kasus pornografi, terkait dalam perannya sebagai model dalam pameran foto di CP Biennale 2005. Kasus ini telah memicu banyak kontroversi dari masyarakat Indonesia, dari masyarakat umum, kaum seniman, dunia hiburan hingga kaum agamawan. Darwis Triadi salah seorang fotografer terkenal di negeri ini berpendapat bahwa apa yang telah dilakukan oleh Anjasmara beserta konco-konconya adalah sebuah ekspresi seni atau bagian dari kreativitas dalam berkarya, beliau juga berkata itu semata-mata adalah seni. Dalam kasus ini seni menjadi benteng perlindungan para pelakunya.Beberapa tahun kebelakang lebih tepatnya di tahun 2003, Indonesia diguncang habis dengan hebohnya goyang Inul, penyanyi dangdut pendatang baru yang  memeberikan terobosan baru dalam kreasi seni panggung. Dengan goyang ngebor-nya, Inul juga banyak menimbulkan kontroversi. Dengan berbagai efek samping berupa pengaruh negatif yang telah diberikan dari goyang mautnya, lagi-lagi banyak kaum seniman, terutama artis Indonesia, mendukung apa yang dilakukan oleh Inul dan berlindung dibalik tameng kesenian. Mereka menganggap bahwa seni adalah seni dan apa yang dilakukannya merupakan satu bentuk kreativitas. Sekali lagi, seni telah menjadi tempat perlindungan yang empuk untuk melakukan sesuatu yang dapat merusak moral bangsa. Dua contoh diatas hanyalah sekelebat permasalahan yang dihadapi oleh bangsa ini. Dimana semua aktivitas pelanggaran sosial dan budaya diatasnamakan sebagai sebuah ekspresi karya seni. Padahal dapat kita pahami bersama bahwa hal tersebut berpengaruh pada rusaknya moral bangsa, lunturnya nilai-nilai kebudayaan hingga merusak peradaban secaraperlahan. Mengapa pengaruhnya bisa sebesar itu?. Hal ini dapat ditinjau dari seni itu sendiri. Seni mempunyai arti yang sangat luas sama halnya seperti cinta, sulit terdefinisi. Namun seni dapat diartikan sebagai ekspresi dari jiwa dan rasa yang dicurahkan dalam berbagai bentuk; rupa, nada (musik), tingkah laku dan gerakan (peran dan tari) dan lain-lain. Pada bentuk nyatanya seni dapat kita rasakan berupa indahnya lukisan, merdunya suara alunan musik, harmonisnya sebuah tarian dan banyak lagi. Lalu bagaimana sesungguhnya seni memandang fenomena pronografi dan pornoaksi tersebut?. Benarkah yang dikatakan oleh para (yang mengakunya) seniman, bahwa hal tersebut hanyalah sebuah ekspresi dari seni dan bentuk dari kreativitas?. Ada sebuah pernyataan menarik dari seorang dosen Desain Produk ITB, M Iksan DRSAS, M.Sn, dalam pembahasannya mengenai pengantar Seni Rupa, beliau berkata bahwa “Setiap seniman dan desainer mempunyai kebebasan dalam berkarya, tapi bebas bukan berarti bebas sebebas-besasnya”. Salah satu pembimbing PAS Salman itu juga memaparkan: “Ada yang disebut dengan sebuah aturan atau batasan yang tetap harus seorang seniman dan desainer patuhi. Batasan dan aturan-aturan tersebut bukanlah sesuatu hal yang dapat menjadikan seorang seiman dan desainer terkungkung dalam keterbatasan berkreasi. Karena seniman dan desainer yang kreatif adalah mereka yang selalu dapat berkarya dalam keterbatasan, bukan seseorang yang berkarya dengan mengiraukan batasan-batasan tersebut”. Dari pernyataan tersebut dapat digaris bawahi bahwa seorang seniman yang kreatif adalah seseorang yang dapat berkarya dalam berbagai keterbatasan yang ada.Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi nilai kesopanan dan kesantunan, karena budaya yang dianut adalah budaya timur. Dimana hal-hal yang berbabau pornografi dan pornoaksi dilarang dan sangatlah tidak pantas untuk dipraktekkan. Sehingga banyak batasan yang harus ditaati oleh seorang seniman, khususnya seniman Indonesia. Dapat disimpulkan  bahwa berkarya atas nama pornografi dan pornoaksi bukanlah sesuatu yang dinamakan seni, kebebasan berekspresi ataupun kreativitas. Seni, Kebudayaan dan Peradaban Pemahaman yang salah mengenai seni oleh seniman-seniman Indonesia, tidak hanya berpengaruh pada melencengnya nilai budaya bangsa, tetapi juga dapat merusak peradaban di Indonesia (peradaban timur) secara perlahan. Seni merupakan salah satu unsur dari sebuah kebudayaan dan peradaban merupakan sebuah sistem dari kebudayaan. Dalam bukunya yang berjudul PengatarAntropologi, Koentjaraningrat menjelasakan bahwa: ‘Istilah “peradaban” sering juga dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan yang memiliki sistem teknologi, ilmu pengetahuan, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan, serta masyarakat kota yang maju dan kompleks’  Sehingga apabila pemahaman terhadap seni sudah bergeser di satu tempat dalam kurun waktu tertentu, maka lama-kelamaan dengan berbagai proses yang panjang, budaya yang berlaku di tempat tersebut akan berubah, jika sebuah kebudayaan di satu tempat telah berubah maka secara tidak langsung dan perlahan-lahan peradaban yang ada di tempat tersebut akan berubah pula. Hal ini tidak perlu dipermasalahkan bila sebuah peradaban beralih pada sesuatu yang baik dalam artian berubah menuju hal yang positif. Ironisnya, dalam kasus pornografi dan pornoaksi yang terjadi di negeri ini, menunjukkan gejala pergeseran pemahaman seni di kalangan seniman Indonesia menuju kearah yang negatif, sehingga secara tidak langsung hal ini dapat mengakibatkan perubahan peradaban bangsa ini menuju kearah yang lebih buruk. Agar hal ini tidak terjadi di masa depan negeri, maka sepatutnyalah para seniman Indonesia menyadari betul arti penting sebuah kreativitas dalam berkarya, dan tidak terlalu menganharapkan sebuah keuntungan besar yang mengatasnamakan seni didalamnya, cukuplah berkarya hingga baris perbatasan, karena karya yang dihasilkan akan lebih dihormati dibandingkan dengan karya seni yang sama sekali tidak menghargai nilai seni yang sesungguhnya.Seni adalah salah satu unsur kebudayaan, disamping banyak unsur kebudayaan lainnya, yang apabila pemahaman dan perlakuan terhadapnya rusak akan mengakibatnya dampak negatif terhadap perkembangan budaya dan selanjutnya akan berpengaruh pada sesuatu yang lebih besar lagi yaitu sebuah peradaban.  

Morinta Rosandini Kriya Tekstil 2005

yups..tadi itu hasil karya tulisan saya untuk memenuhi salah satu tugas untuk mengikuti sebuah pelatihan dari YPM Salman, yang bisa dibilang hasil dari semi-deadliners. Sedikit berat ya… hehe 

 
Leave a comment

Posted by on July 16, 2007 in Yang Mikir

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: