RSS

Sebuah Analisis ‘ngaco’ tentang Angkot

23 Feb

Dalam sepekan ini saya sedang melahap sebuah buku menarik karya Ajip Rosidi, seorang sastrawan asli dari Bandung dan sudah lama tinggal di Jepang sebagai dosen, yang berjudul ‘Orang dan Bambu Jepang’. Di dalamnya diceritakan banyak kisah manngenai kondisi masyarakat, gaya hidup dan kebudayaan masyarakat Jepang. Saya yang suka sekali dengan buku-buku berbau sejarah dan kebudayaan langsung samber tuh buku selama satu pekan, disambi sama kerjaan di kantor.

Nah…inti dari kisah kali ini sebenarnya bukan ada pada buku tersebut, buku tersebut hanya sebagai salah satu inspirasi saya dalam tulisan kali ini (jyaaaa….sok bijak benar daku ini kali ini). Karya tersebut telah mendorong saya untuk membuat hal yang hampir mirip dengan apa yang dilakukan oleh Ajip Rosidi. Namun dikarenakan saya belum (amin..amin..semoga suatu saat) pernah pergi ke Jepang dan mengamati kegiatan sosial, budaya dan masyarakat disana, maka….jeng jreeeeeeeeeng….kali ini saya akan mengupas tentang sebagian kecil kisah kehidupan di kota Jakarta. Tema yang saya ambil tiada lain dan tiada bukan adalah tentang: Angkot!!!!! hahahaha….tolong maklumi karena saya adalah angkoters sejati semenjak saya duduk di bangku SD kelas 4, hingga kini saat saya menjadi salah satu karyawan di salah satu perusahan swasta di bilangan jakarta selatan.

baiklah jangan ragu jangan bimbang mari kita mulai saja langsung sodara-sodari..tarik nafas dalam-dalam…..lalu hembuskan……luruskan niat, sertakan iman…merdeka!!!

ANGKOT JAKARTA vs ANGKOT BANDUNG

Jakarta…mmh…..sebuah kota yang ga ada habis-habisnya untuk dikisahkan. Kali ini saya mencoba untuk mengupas keunikan Jakarta dari sisi angkot dan orang-rang yang ada di sekelilingnya (rada ga elit tapi teu nanaon, lanjuuut). Jakarta merupakan kota yang memiliki tingkat mobilitas yang sangat tinggi (cie..bahasanya). Setiap hari akan ada jutaan orang dan ribuan kendaraan yang memadati kota jakarta (kayaknya hitungannya terlalu lebay ya?). Di Jakarta ada beberapa alternatif kendaraan yang bisa kita gunakan sehari-hari, antara lain: mobil pribadi, motor pribadi, pesawat pribadi (??), busway (yang sudah lama populer), metro mini, kereta api, bus, ojek, angkot, sepeda hingga bajaj.

Berbeda dengan di Bandung, dimana angkot adalah jasa transportasi yang menjadi primadona, di Jakarta angkot tidak sepopuler metro mini dan bus way. Hal tersebut salah satunya dikarenakan jalur angkot tidak melewati “jalur sutra” pusat kesibukkan kota Jakarta.

Angkot di Jakarta memiliki ciri khasnya sendiri, berbeda dengan angkot yang tersebar di seluruh penjuru Bandung, yang udah kayak bakteri dalam kolam ikan (naoooon sih), angkot di Jakarta jumlahnya terbatas, tidak sebanyak angkot di kota bandung, yang tiap dua jengkal pasti ada angkot dengan jurusan yang sama. Hal tersebut wajar untuk kota Bandung, karena sarana angkot sudah menjadi sarana transportasi utama. Di Bandung, jarang sekali bahkan terhitung tidak ada angkutan sejenis metro mini, kopaja, ojeg, dan tentu saja busway (ada sih TMB – Trans Metro Bandung, tapi sama sekali tidak efektif penggunaannya). Transportasi antar kabupaten di Bandung tersedia mobil sekelas ELF, mobil ber cc besar dan bertenaga besar, juga bepostur besar (serba besar lah pokoknya).

Kembali pada angkot Jakarta, hal lain yang bisa diperbandingkan dengan angkot yang ada di bandung adalah, kapasitas penumpang yang bisa masuk kedalamnya. Sedari kecil saya sudah didik oleh kernek angkot, bahwa muatan angkot adalah 14 biji orang,  7 dibangku kanan (dari supir) dan 5 di bangku kiri, dan dua didepan. Terkadang angkot bisa dipaksakan bermuatan 15-16 orang, dengan adanya bangku ‘artis’ di belakang jok penumpang depan dersebelahan dengan pintu. Dinamakan bangku artis karena letaknya yang sangat frontal dan dapat dilihat oleh semua orang yang ada didalamnya, bagaikan artis yang di tonton oleh penggemarnya di depan panggung bermandikan cahaya. Keberadaan bangku ini bergantung pada kecerdikan dan kekreativitasan si empunya angkot. Berbeda dengan di Bandung, angkot di Jakarta hanya memiliki muatan 11 orang dan maksimal 12 orang, dengan komposisi 6 di bangku kanan (dari supir), 4 dikiri dan satu orang di depan, terkadang ada bangku ‘artis’ untuk satu orang, namun jumlahnya tidak banyak untuk angkot-angkot jakarta. Jikalau kebanyakan abang-abang angkot Bandung dan kernetnya suka memaksa para penumpang untuk duduk berdesak-desakan, hingga bernapas saja sulit (lebay), kebanyakan supir angkot di Jakarta tak terlalu menghiraukan hal tersebut. Sepertinya mereka (supir angkot di jakarta) lebih banyak tawadhu dan lebih mementingkan kenyamanan para penumpang. Penyabab utama dari perbedaan jumlah penumpang ini ada pada jenis mobil yang digunakan dan keberadaan kursi tambahan yang ada di bangku 5 angkot Bandung, faktor lain yang masih dalam tahap penelitian adalah faktor kesejahteraan (hahahahahahaha)…sepertinya orang Jakarta memiliki postur tubuh yang lebih besar sehingga membutuhkan space yang lebih banyak di dalam angkot (hehehehe..alasan yang tidak ilmiah).

Ciri khas lain dari angkot di Jakarta ada pada cara memberhentikan angkot.

Berikut beberapa ‘magic spell’ untuk cara memberhentikan angkot:

Di Bandung:

– kiri mang

– kiri jang

– kiri a

– kiri payun pak

– kiri euy (halah meuni genit pisan)

– kiri-kiriiiiiiiiiiiii (klo udah kesel)

Di Padang:

– kiri da

– kiri pak

– siko ciek pak

– stop-stop

– *mengetukkan langit-langit angkot

DI Jakarta:

– kiri bang

– kiri pak

– *mengetukkan langit-langit angkot

Pada intinya semua sama…hanya penerapan nya saja yang berbeda.

Ada satu hal lagi yang menjadi perbedaan penggunaan angkot di Jakarta dan di Bandung, namun ini lebih pada tingkat kepekaan individu. Di Bandung bila ada orang yang sudah duduk di dalam angkot dan ada lagi calon penumpang yang akan masuk, maka secara otomatis orang pertama yang duduk di dalam akan menggeser secara otomatis, dan memberikan space lebih untuk yang penumpang yang baru masuk. Namun, bila diperhatikan hal tersebut tidak terjadi pada kondisi sosial angkot di Jakarta. Di Jakarta bergeser untuk memberikan space duduk, adalah salah satu hal yang paling sulit dilakukan, entah mengapa namun sepertinya orang-orang di Jakarta punya prinsip: sekali PW tetap PW, ga bisa di ganggu gugat.

Yup…yup….demikian analisis saya mengenai kondisi dunia perangkotan di Jakarta, yang selama kurang lebih 3 bulan sudah saya rambahi (baru 3 bulan aja udah sombong..hahahaha). Analisi ini hanyalah analisis yang dibuat berdasarkan intuisi ngaco dari sang penulis, dibuat karena ingin mencurahkan sekelumit kegiatan menarik yang terjadi selama merantau (merantau?? haha…padahal cuma jakarta-bandung doang). Sip..sip..semoga bermanfaat, minimal bis amenghibur hati yang sedang gundah.

Jayalah Angkot Indonesia.

by angkoters bandung yang beralih ke jakarta

 
13 Comments

Posted by on February 23, 2010 in Yang Seru

 

13 responses to “Sebuah Analisis ‘ngaco’ tentang Angkot

  1. Ega Dioni Putri

    March 2, 2010 at 12:54 pm

    pertamaxxx!
    betol, kak Mo..analisis2nya sudah tepat, saya juga merasakan walaupun hanya dua hari ngangkot di jakarta😛
    ada lagi tambahannya: sopir angkot jakarta ga ada ramah2nya sama sekali (dari tiga angkot yang saya tanyain,implikasinya gini) ga kaya di Bandung, pelit ngomong termasuk kalo ditanya -_- tolong dianalisis ya😀

     
    • morinmorefun

      May 11, 2010 at 2:23 am

      hahahahaha…iya gaaaaa….siaaaplah..nuhun yak

       
  2. adis

    May 8, 2010 at 5:09 pm

    klo metromini/kopaja gimana mo? hehehe

    anyway, gw link blog lu yaaa

     
    • morinmorefun

      May 11, 2010 at 2:23 am

      hohoho….metromini punya cerita lain lagi teh..mmh….asik juga tuh klo dibahas..hehe…dicoba dulu, ntar klo udah di post lagi..makasi teh

      sip…sip…sama2 saya juga ikut nge-link yak🙂

       
  3. Ridwansyah Yusuf Achmad

    June 20, 2010 at 4:44 am

    tapi ya rin, angkot paling enak tuh ya angkot di padang.. ajeb ajeb banget…

    pasti sekarang2 yg lg trend di angkot padang tuh lagu “mau dibawa kemana” nya armada dan “C.I.N.T.A” nya the bagindas. hahah

     
  4. icha

    July 8, 2010 at 8:00 am

    de morin……saya akan masukan blogmu ke blogroll sayah,biar blog saya morefun gitchu……

     
  5. Firman Ahmad

    September 21, 2010 at 10:51 am

    Kamu orang Bandung kan? Berarti kamu sekarang memang benar merantau karena baru merasakan tinggal di tempat yang bukan merupakan tanah tempat dibesarkan, apalagi kamu perempuan yang menurut sebagian orang tua sudah dianggap jauh kalau anak perempuannya pindah ke Jakarta dari Bandung.

    Tentang kapasitas angkot, justru ketika kecil saya ‘dididik’ bahwa kapasitas angkot maksimal 13 penumpang, 6 di bangku kanan (dari supir) 4 di bangku kiri, dan dua didepan, ditambah bangku artis. Dan itu sudah tak bisa ditambah lagi kecuali ada anak-anak. Ketika pindah ke Bandung saya awalnya bingung, kok penumpangnya sudah terpenuhi 6 4 (6 di bangku kanan, 4 di bangku kiri) masih belum jalan juga.

    Kamu berlebihan menulis “tiap dua jengkal pasti ada angkot dengan jurusan yang sama” di Bandung. Menurutku jumlah angkot di Bandung masih lebih jarang dibandingkan jumlah angkot di Bogor yang bahkan ada yang menyebutnya sebagai kota angkot. Sopir angkot di Bogor lebih punya banyak cara yang ngeselin penumpang di dalamnya untuk menarik calon penumpang. Kamu kalau mau mencegat angkot Caringin-Sadangserang kalau terlewat biasanya perlu menunggu sekitar 1 menit untuk mendapatkan angkot berikutnya.

    Sekian saja dari saya. Ini adalah analisis dari analisismu tentang angkot yang katanya ‘ngaco’. (tersinggung gak, saya nulis ini? Saya bingung kenapa kamu menganggap ini adalah analisis ‘ngaco’)

     
  6. Yohan Wibisono

    October 28, 2010 at 8:08 am

    Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang Bisnis dan Kesehatan di
    blogku : http:// http://www.ptmsi.net, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat.

     
  7. Febi Mutia

    February 25, 2011 at 6:17 am

    morin,dirimu melupakan satu hal..
    saya kalo di bandung hapal angkot by warna body angkot.
    klo di jakarta kudu diperhatikan bener2 dah tu stiker trayek..

    gimana bu?

     
  8. taqisthi

    February 26, 2011 at 8:50 am

    i’d like you to receive this award.. http://taqisthi.wordpress.com/2011/02/26/gara-gara-award/ Congrats!

     
  9. hari

    March 9, 2011 at 4:46 pm

    rin, angkot artis kadang dinamakan juga angkot ulang tahun. Saya pernah naik angkot, dengan beberapa teman. ada yang kebagian di kursi “ulang tahun”. Kita serempak bertepuk tangan dan menyanyikan lagu ulang tahun.. Hahahah

     
    • morinmorefun

      March 13, 2011 at 2:43 am

      hahahahaha…alay pisan eta kejadian….harsow…harsow…ulang tahun berkesan di angkot..hehe..bisa juga atuh diesebut bangku direktur..kan klo direktur selalu duduk di tengah depan…

       
  10. ayahbundakhaibar

    March 16, 2011 at 12:11 pm

    baru baca ini morceu..hahahaha… dibandung mah naek angkot teh jadi ibadah soalnya jadi banyak dzikir..inget mati.. heheh ngararaebut pisan..

    btw..saya link ya blog nya heheh (di link dulu baru ijin)..

    luv you mo..muah..muah..

    sampai jumpa di sesi pemotretan anakku ya..sabtu apa minggu nih jadinya?

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: