RSS

MUDIK UDIK UNIK – sebuah fenomena tahunan bangsa ini.

25 Aug

bapak pulang (sumber: dokumentasi mudik pribadi)

Sudah hampir 3 lebaran saya dan keluarga tidak pulang kampung melalui jalan darat, dalam arti kata lain menggunakan kendaraan pribadi. Terakhir sekitar tahun 2007 saat saya masih imut-imut cupu, yaitu tingkat tiga, lalu tahun-tahun berikutnya pulang kampung melalui jalur udara, memecah langit, menunggangi burung raksasa bermesin a.k.a pesawat terbang. Namun itupun tidak dilakukan setiap tahunnya, tahun lalu saja saya menghabiskan waktu berlebaran di kota Bandung, dan mudik tetap menjadi satu hal yang selalu saya nanti-nantikan setiap tahunnya.

Mudik sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia tahunan, saat lebaran menjadi waktu yang paling tepat untuk bersilaturahmi dengan keluarga jauh dan melepas rindu dengan kampung halaman. Hal ini menjadi menarik karena mudik menjadi satu budaya lokal Indonesia, karena tidak semua negara melakukannya. Mudik menjadi ciri khas masyarakat Indonesia dikarenakan beberapa hal, antara lain; mayoritas masyarakat Indoensia adalah muslim, sehingga hari raya Idul Fitri menjadi satu hal yang begitu spesial dan harus dirayakan bersama keluarga besar.Namun hal tersebut berkebalikan dengan apa yang terjadi di Iran, yang masyarakatnya juga mayoritas muslim, bagi mereka libur idul fitri hanya dilalui dengan libur satu hingga dua hari saja, sesudahnya aktivitas kembali berjalan normal, karena masyarakat memiliki waktu khusus untuk berkumpul bersama keluarga besar saat tahun baru Iran, bukan saat hari raya Idul Fitri.

Alasan kedua mudik menjadi sesuatu hal yang mengakar di negeri ini adalah karena sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki prinsip ‘merantau’, khususnya bagi masyarakat di luar pulau Jawa. Sehingga mereka yang merantau ke pulau Jawa, bekerja dan hidup di pulau Jawa, saat berlebaran mereka biasanya membawa keluarga mereka untuk pulang ke kampung halamannya, bertemu dengan orang tua mereka, mengenalkan anak-anak mereka pada nenek-kakek dan lingkungan desa tempat tinggal mereka dulu. Dari alasan kedua ini apa yang dapat kita lihat? fakta apa yang tersembunyi di baliknya? yang pertama, bahwa pemerataan kesejahteraan negeri ini belumlah merata, semua masih terpusat di pulau Jawa, khususnya kota Jakarta. Coba aja kalau negeri sejahtera merata di seluruh pelosok, maka tak ada lagi perantau yang akan datang ke pulau Jawa untuk mengadu nasib. Coba kalau ada lapangan kerja yang mencukupi di kampung, sehingga tak ada lagi perantau yang mau meninggalkan kampung halamannya, coba aja kalau ada institusi atau universitas setaraf ITB, UI dan UNPAD di daerah-daerah terpencil di Indonesia, sehingga masyarakat lokal tidak perlu susah-susah lagi pergi jauh ke pulau Jawa untuk menuntut ilmu. hahahaha….tapi itulah uniknya Indonesia, merantau telah menjadi sebuah budaya, merantau juga yang telah membentuk pribadi warganya untuk menjadi pribadi yang mandiri, merantau pula yang telah membuat seorang wanita Sumatera bertemu dengan seorang pria Jawa, atau seorang pria Banjar bertemu dengan seorang wanita dari tatar Sunda, keberagaman itulah yang membuat Indonesia semakin unik.

Hehehe..bahas mudik jadi jauh-jauh menganalisa antropologi kehidupan masyarakat Indoensia gini…tapi memang tak bisa dipungkiri mudik adalah fenomena menarik dari negeri ini. Fenomena yang punya keistimewaan tersendiri bagi negeri ini, fenomena yang berdampak luas bagi kelangsungan bangsa ini. Bayangkan berjuta-juta orang berpindah tempat menuju berbagai penjuru negeri ini dalam waktu hanya beberapa hari, ada yang rela bayar tiket menuju Banjarmasin dua kali lipat dari biasanya, rela membawa barang-barang tambahan di atas mobilnya menyebrangi laut Sunda, dan ada berani menembus jalan pantura menggunakan motor beradu peluh dengan bus dan truk, kesemuanya dilakuakn demi berjumpa dengan keluarga tercinta di kampung halaman.

Yups, menarik ternyata antara mudik dan merantau di negeri ini, sebuah ‘kausalitas’ fenomena budaya yang telah menjadi karakteristik bangsa ini.

Hehehe…analisis “ngaco” ini jangan dianggap terlalu serius, ini hanya buah pemikiran yang terlintas sebelum saya pergi mudik, ceritanya saya sedang berusaha menghayati proses ini, karena saya adalah salah seorang dari jutaan manusia yang ada di Indonesia yang menjalani mudik. Yah walaupun saya dilahirkan di kota Bandung ini, namun saya memiliki darah 75% Minang 25%  Jawa, dan saya selalu merindukan suasana kampung halaman di Padang, Bukittinggi dan terutaman suasana desa Sungai Kamuyang di Payakumbuh.

Tak sabar menuju kesana.

Mohon doanya…perjalanan melalui darat ini insyaAllah akan memakan waktu dua setengah hari, berangkat konvoi dengan dua mobil dan pelan-pelan saja..sambil menikmati pemandangan alam ciptaan Allah, toh esensi mudik ini adalah bersilaturahim dengan keluarga di kampung  juga bertadabur akan keindahan alam yang Allah ciptakan.

Siplah, sampai berjumpa kembali.

Segenap kru Morinmorefun mengucapkan

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Semoga Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan terbaik

Semoga Allah masih memeberikan kita kesempatan untuk bisa berjumpa kembali dengan Ramadhan tahun depan

Amin

Selamat IDUL FTRI 1432 H (eh bener kan ya 1432?)

salam

simorinpulangkampung

tidak ada kesempurnaan dari seorang manusia, begitu pula dengan saya, saran kritik mangga layangkan via komen di bawah🙂. Oyah kalau ada yang nanya kenapa judulnya MUDIK UDIK UNIK? saya jawab: biar bagus rima nya..hehe.

 
Leave a comment

Posted by on August 25, 2011 in Curhat Ramadhan, Yang Seru

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: