RSS

curhat mudik 2#: KEBELET

18 Sep

yap curhat mudik kali ini bertema KEBELET…hahaha….

KEBELET satu momok menyeramkan bagi banyak para wanita yang suka bepergian jauh.

loh kenapa wanita?

berdasarkan penelitian frekuensi wanita untuk BAK (buang air kecil) lebih sering dibandingkan dengan pria, secara ilmiah hal itu sudah terbukti. silahkan googling klo ga percaya. tapi karena saya baik hati, tidak sombong, gemar membantu nenek-nenek menyebrang jalan serta selalu memberi duduk pada ibu-ibu hamil di bus (walopun nilai PPKN saya waktu dulu B) ini saya kasih infonya:

Wanita lebih sering pergi ke toilet daripada pria. Hal ini berkaitan dengan volume kandung kemih, yang lebih besar pada pria dibandingkan pada wanita. Pria memakan waktu lebih lama untuk memenuhi kandung kemihnya sehingga mereka lebih jarang buang air kecil.

sumber: http://majalahkesehatan.com/buang-air-kecil-terlalu-sering-apa-

Yap kembali ke perjalanan mudik saya. Kebelet pun menjadi satu hal yang saya takuti bila sedang dalam perjalanan panjang. Beberapa kali saya pernah terjebak dalam sebuah situasi menegangkan, mengundang keringat dingin dan degupan jantung yang begitu cepat, terkait dengan kondisi kebelet. Saya namakan beberapa tragedi ini dengan tragedi kebelet.

Pernah kebelet? Baik kebelet ingin mengeluarkan benda padat (BAB) maupun kebelet ingin mengeluarkan cairan (BAK) . Saya yakin semua orang pernah merasakan yang namanya kebelet. Tapi tragedi ini sungguh luar biasa, kebelet telama yang pernah saya alami dan tentunya sungguh menyiksa jiwa raga dan psikologi saya selama perjalanan. Baiklah…

Tragedi Kebelet 1#

Peristiwa ini terjadi kira-kira ketika saya tingkat 2 (atau tingkat 3 ya? lupa) intinya ketika saya masih duduk di bangku kuliah S1. Sore itu saya pulang kuliah sendiri mengendarai muntam, yang selalu setia sejalan dan seirama. Ditengah perjalanan dari kampus ke kopo, yang tentu saja memakan waktu cukup lama, dan jarak yang tidak dekat (sekitar 10 km dari kampus ke rumah), tiba-tibaaaa….saya merasakan kontraksi tidak bersahabat di perut…aaaarggggh….saya lupa BAB pagi ini, dan lupa menuntaskannya ketika di kampus. Sampai di leuwi panjang kontraksi mulai menjalar ke bagian belakang, waaaah parah….perjalanan masih setengah lagi menuju rumah, dan saya lupa itu sore hari…kondisi diperparah dengan rutinitas kemacetan di sepanjang jalan kopo. wuadooooooooooooooooh….saya pun mencoba memberikan mindset baik pada seluruh tubuh saya bahwa ‘everythings is gonna be ok’ hingga sampai rumah nanti, saya yakin saya bisa bertahan.

Sempet berpikir untuk berhenti di sebuah tempat dan segera menuntaskan panggilan alam yang tak diundang ini, namun saya bingung..mau berhenti dimana? pom bensin? supermarket? haaa…udah ga sempet lagi terpikir untuk berhenti…pengen cepet-cepet sampe rumah. Akhirnya perjalanan pun sampai di jalan kopo, dan memang…jalan kopo macet sore itu, kondisi di mobil sudah ga karuan, saya berusaha mengalihkan perhatian dengan menyalakan musik, mematikan ac, dan banyak usaha lainnya. Namun semua itu nampak sia-sia…kontraksi perut masih bergejolak bahkan semakin parah.

Setelah satu jam bertahan di atas mobil..akhirnyaaaaaaaa…..saya sampai juga di depan rumah, tanpa pikir panjang lagi, buka pintu mobil, buka pintu garasi, ketok-ketok pintu dengan posisi sudah tidak proporsional lagi dan dengan napas setengah-setengah (berharap orang di rumah segera membuka pintunya). Ketika pintu dibuka, menerobos masuk (lupa salam), sambil teriak pengen e********……….

si mamah yang buk apintu cuma bengong2 pastinya.

lalu di kamar mandi? — tidak usah diceritakan — hal terdamai yang pernah saya alami.hahahaha….

saran saya bagi anda yang mengalami ini:

– dicegah dengan BAB rutin sesuai dengan siklus yang anda punya (karena tiap orang punya siklusnya masing-masing).

– jangan pernah menahan yang namanya kebelet BAB dimanapun anda berada, karena akibatnya akan parah ketika anda sudah dalam perjalanan.

– bila kejadian ini sudah terlanjur, segera cari tempat terbaik…minimal pom bensin, klo ada rumah temen terdekat kunjungi saja, itung-itung sekalian silaturahim.hehe

Tragedi Kebelet 2#

Nah, cerita berikutnya, kalo tadi kan kebelet BAB di dalam kondisi saya sedang dalam kendaraan pribadi dan dalam perjalanan kerumah. Kebelet yang satu ini, tidak akan pernah saya lupakan sepanjang sejarah kehidupan saya. Tragedi ini terjadi beberapa bulan yang lalu, saat saya sedang mengunjungi kakak angkatan saya di daerah Banjar, Ciamis. Ketika pergi ke Banjar, saya berangkat pagi hari dengan menumpang bus BUDIMAN jurusan Bandung-Pangandaran dari terminal caheum. Sistem bus disana adalah hukum rimba, siapa cepat dia dapat, siapa yang duluan datang dia yang dapat, mana bus yang ada disana, ya itulah bus yang harus kita tumpangi.

BUDIMAN punya dua jenis bus, bus AC dan non-AC, awalanya saya berpikir lebih baik naik bus AC karena perjalanan panjang dan saya butuh yang adem-adem lagipula harganya tak jauh beda dengan bus non-AC cuma beda 3ribu rupiah. Namun saat itu nasib membawa saya untuk naik bus non-AC, saya pikir tak apalah toh sama-sama bus, kendaraan beroda empat berbodi besar yang akan mengantarkan saya ke tempat tujuan, sambil ditemani oleh angin sepoi-sepoi. Oyah, FYI, bus BUDIMAN AC dan non-AC jurusan bandung-pangandaran atau bandung-karang pucung, keduanya tidak dilengkapi dengan fasilitas toilet on road, jadi, hindari kebelet se dini mungkin…kalo ingin BAK apalagi BAB, pikirkan sebelum berangkat, atau tunggu sampai bus ini berhenti di salah satu restoran daerah TASIK!!!!. hahaha….

Nah, saat berangkat menuju Banjar, semuanya berjalan baik-baik saja, dan saya pun Alhamdulillah selamat sampai di desa Karangkamulyan, Banjar. Disana saya menginap tiga hari dua malam, di tempat kakak angkatan saya, melihat calon sentra tenunan disana, hohoho….sambil bermain-main ke sungai dan hutan sebelah rumah.

Hari ketiga saatnya saya pulang, karena desa tersebut berada di lintas jalan menuju pangandaran dan jawa, maka saya tidak harus ke terminal ciamis terlebih dulu untuk pulang ke Bandung. Di pinggir jalan saya tinggal nyetop satu bus (yang juga BUDIMAN) baik dari Pangandaran maupun Karang Pucung, yang tujuannya Bandung (yaiyaalah mun tujuannya Padang mah saya pulang kampung weh sakalian). Nah, pagi itu saya menanti di pinggir jalan, persiapannya saya sudah BAB dulu tadi pagi, untuk menghindari kebelet di tengah jalan. Tapi saya lupa, klo tadi pagi saya minum teh manis cukup banyak, teh yang disuguhkan oleh tuan rumah, saya lupa penyakit kebelet saya bisa kambuh kalau minum teh banyak-banyak di pagi hari. Namun apalah daya, saat itu saya belum merasakan gejala-gejala berarti, sampai bus BUDIMAN jurusan bandung pun datang, lalu saya naiki.

Di atas bus, sudah penuuuuuuuuuuuuuuuh….akan makhluk-makhluk yang akan menuju Bandung, hari itu hari minggu, yah wajar lah banyak orang yang mau pergi ke Bandung, atau sekedar main atau kembali ke tempat kerjanya. Bus yang saya naiki adalah bus AC dengan seat 2-3, akhirnya saya dapat tempat duduk di sebelah ibu-ibu dengan dua anak. Yah berbagi rasa berbagi cita, empet-empet-an di bus dengan kapasistas 60 orang-an dengan AC yang menyala kencang, serta jalan bus yang bergoyang-goyang karena kelokan.

Tak berapa lama bus berjalan, sekitar 5 menit….eh bus berhenti di sebuah restoran kecil di pinggir jalan. Ternyata tenpat pemberhentiannya berbeda dengan ketika berangkat waktu itu. Saat pergi bus BUDIMAN berhenti dua kali, satu di daerah Tasik, disebuah restoran cukup besar, dan satu lagi di daerah (mmh..ga apal), di sebuah pom bensin. Saat bus itu berhenti, saya ikut turun saja, seperti layaknya penumpang lainnya, ada yang ingin makan (karena mereka sudah lebih dulu jalan dibanding saya), ada yang mau ke wc, ada yang sekedar duduk, nah itu saya…saya cuma duduk-duduk bengong doang liat jalan. Saya tidak berminat sama sekali untuk makan, dan juga untuk ke wc…saat itu pikiran saya, “ah ga pengen ke wc”, kayaknya masih kuat sampe Bandung lah. Jadi saya memutuskan untuk tidak ke wc, saat itu saya belum sadar, bahwa keputusan saya itu tidak tepat sama sekali!…heu…

Lima belas menit berhenti, perjalanan di lanjutkan, saat ini saya pindah duduk, di sebelah mbak-mbak berambut panjang..hiiii (tenang, ini bukan cerita horor). Bus pun berjalan, kembali memutar rodanya di aspal. Saya punya kebiasaan aneh, kalau selama perjalanan jauh, saya anti banget yang namanya tidur, kalau cuma perjalanan 5-6 jam, mata saya tetap terbuka, memandang jalan dan berbagai macam hal-hal unik yang ditemukan di desa dan kota yang dilewati. Saya pun menghibur diri sendiri dengan mendengarkan musik dari mp3 ponsel saya.

Lima menit berlalu, tiba-tiba saya merasakan hal yang aneh, perasaan tidak enak menelusup ke bulu kuduk, dalam hati “duh pengen pipis”…hadooooooh…gemana ini….padahal barusan berhenti bangeet. Heu…tapi saat itu masih dapat ditahan, saya berusaha me-mind-set pikiran saya, “ga pengen pipis, ga pengen pipis, ga pengen pipis”..itu yang berputar-putar di otak saya, sambil mengambil alih pikiran di otak dengan lagu-lagu yang sedang diperdengarkan di telinga. Menit-menit terus berlalu, kok rasanya makin tajam saja keinginan untuk pipis…aaaah..ini adalah pertanda kebelet yang tidak diharapkan sama sekali. Suasana syahdu eh panik dengan “rong-rong-an” AC di atas kepala. Hadooooh….saya paling ga kuat sama AC bus….dulu setiap saya pergi ke Jakarta dengan menggunakan bus Primajasa Bandung-Lebak Bulus, satu hal yang pertama kali saya lakukan setiap naik bus itu adalah: mematikan AC, ga cuma satu, tapi 5 AC di sekitar saya..hahaha…mumpung sepi. Tapi sekarang….lain perkara, semua orang kepanasan di dalam bus, semua orang menyalakan AC. Ooooh tidaaaaak…..drama ini pun bertambah hebat dengan didukung kondisi jalan yang berliku-liku dan belubang…huwaaaaaaaaaaaaaaaaa……setiap kelokan bagaikan bencana, setiap lubang yang dilalui, rasanya saya pengen nyekek orang…(eh astahgfirullah)…akhirnya saya cuma bisa gigit bibir sambil meremas-remas tangan sendiri.

Hmapir setengah jam bus berjalan, kondisi saya di dalam sana semakin parah, ingin rasanya mengambil alih kemudi sopir bus, lalu cepat-cepat belok ke restoran atau pom bensin terdekat, atau teriak..stoooop paaaak….saya kebeeleeeet… Namun apadaya semua tidak bisa saya lakukan sekenannya, karena itu bus umum. Heuum…satu-satunya harapan saya adalah pemberhentian kedua nanti, pom bensin!!!.  Tapi saya tidak bisa tahu pasti apakah bus ini berhenti di pom bensi yang sama dengan keberangkatan atau tidak. Sebenernya ada satu lagi harapan saya, yaitu di Terminal Ciamis, tapi itu masih lumayan jauuuuh.

Sambil mencoba menahan hasrat kebelet, saya ambil ponsel, lalu mengetik sms ke kakak angkatan saya di Banjar, menanyakan: “teh, bus ini bakal berhenti di pom bensin yang sama dengan pom bensin waktu pergi ga?. Saya kebeleeeeet teeeh, hidup dan mati saya ada disana”. SEND. Harap-harap cemas, saya yakin pom bensin itu belum terlewati (keuntungan tidak tidur selama perjalanan), tapi yang saya khawatirkan bus ini berhenti disana atau tidak. Satu menit dua menit berlalu, datanglah sms dari si teteh dengan jawaban: “hahaha….iya berhenti kok”.

Fiuuuuh….setidaknya jawaban itu membuat saya lebih lega sedikit, masih ada harapan saya untuk bisa hidup tenang di bus, tidak usah menunggu sampai Bandung!!!. Gila aja kalo disuruh nahan sampe Bandung. Oke..sesaat saya bersyukur, dan berusaha mengontrol diri sejenak, tarik napas dan buang napas dengan teratur untuk menahan gejolak hasrat kebelet. Setelah berusaha mengontrol diri, saya liat keluar jendela, duh saya ga tau persis ini pom bensin nya sejauh mana lagi. Dalam hati berdoa…ya Allah dekatkanlah aku pada pom bensin itu. Tiba-tiba laju bus memelan, dan BERBELOOOK!!! di sana ada atap merah, gedung yang saya kenal..itu pom bensiiin!!..Alhadulillaaaah……didetik-detik terakhir, saya siap-siap untuk turun dari bus. Setelah bus berhenti dengan sempurna, tanpa pikir panjang…saya langsung ngaciiiiir ke pintu belakang, turun dan mencari-cari letak wc…oooooh..bangunan itu begitu mewah sekali di mata saya sekarang, bagaikan istana megah dengan pangeran tampan menanti di seberang sana (naon deui teu nyambung). Berlari-lari seperti ibu-ibu yang mengejar mang-mang sayur, saya melesat cepaaat masuk ke dalam wc..dan fiiiiiiiuuuuuuuh……legaaaa…..super duper lega….dunia kembali berputar.

Haaaaaaaaaaa…..satu hal yang paling meneganggkan yang pernah saya alami terkait kebelet. Dalam hati gak lagi-lagi dah…minum banyak-banyak sebelum berangkat perjalanan jauh. Lalu saya kembali ke bus Budiman tercinta, dan melanjutkan perjalanan dengan hati riang.

hahaha….yah begitulah pengalaman kebelet saya yang kedua…paling meneganggkan buat saya. Alhamdulillah saya masih diberi kemudahan di tengah-tengah perjalanan.

Beberapa tips agar tidak mengalami hal yang sama (khususnya perempuan):

1. Jika ingin bepergian jauh, apalagi dengan menggunakan kendaraan umum-bus tanpa fasilitas toilet, jangan minum banyak-banyak sebelum berangkat, pastikan volume air di dalam tubuh sedikit (di kandung kemih maksudnya) sebelum berangkat.

2. Bawa jaket yang cukup hangat dan tebal atau syal, apalagi kalau dapet bus AC, jaket tebal dan syal dapat menjaga suhu tubuh tetap hangat, karena kebelet bisa disebabkan karena suhu tubuh kita turun.

3. Kalau sudah merasa sedikit pertanda akan kebelet, jangan tunda ke toilet. Jangan tunggu pemberhentian selanjutnya.

Tragedi Kebelet 3#

Ada satu tragedi lagi, dan ini baru terjadi ketika di perjalanan mudik saya. Tepatnya ini terjadi di jalur lintas Bukittinggi-Payakumbuh. Saya dan keluarga mau menuju Payakumbuh dari Bukittingi, keduanya merupakan dataran tinggi dan dingin. Yang istimewa dari kejadian ini adalah, selama perjalanan jarang ada pom bensin, lebih banyak rumah penduduk dan hutan tentunya. Saat itu saya beruntung karena menggunakan kendaraan pribadi, jadi masih bisa berkoordinasi dengan baik dengan ayah saya sebagai orang yang mengendarai mobil saat itu. Durasi saya menahan kebelet saat itu tidak selama kejadian di Banjar. Hahaha…saya diselamatkan oleh Masjid di pinggir jalan, sudah masuk kota Payakumbuh. hehe…sempet nyesel soalnya marah-marah minta ngebut ke ayah saya, maklumlah orang yang kebelet kadang emosinya gampang terpancing.

Dari ketiga tragedi kebelet yang saya alami, saya meyadari bahwa saya penderita kebelet yang cukup akut tapi mungkin tidak seakut overactive bladder (OAB) sebuah penyakit sering buang air kecil, jadi setiap jalan jauh saya selalu menghindari minum terlalu banyak dan selalu menjaga suhu tubuh dengan jaket. Semoga hal ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang, karena cukup menyiksa batin bila ini terjadi lagi. Semoga saja. Mohon doanya.

Maaf bila ada kata-kata yang salah, bukan maksud mengundag sesuatu hal yang vulgar, karena kebelet adalah sebuah kewajaran namun bisa jadi bencana bila terjadi di waktu yang tepat. Mencegah lebih baik daripada mengobat :p. Selamat menikmati perjalanan jauh.

 
2 Comments

Posted by on September 18, 2011 in curhat mudik, Yang Lucu

 

2 responses to “curhat mudik 2#: KEBELET

  1. sundariekowati

    September 20, 2011 at 2:28 am

    ampooon dah ampun! gw banget! ih vulgar ih mo! hhahaha.
    Tapi tetap lucu kocak menghibur, hahaha.
    bener2 curhat ini mah.

    ternyata momo sama yah dg ai, g suka AC.
    5 sekaligus dimatikan? hwow! tindakkan yg cukup berani.😀

     
    • morinmorefun

      September 20, 2011 at 3:26 am

      hahahaha…iya ai…begitulah wanita :p…iya ah rada vulgar dikit teu nanaon, kapanjangen deui caritana..hehe….iyah mun di bus mah langsung matiin ac..itu udah kewajiban…maklum saya udik ga bisa hidup dengan AC

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: