RSS

sudah siapkah masyarakat Indonesia menjadi duta bagi negaranya sendiri?

03 Nov

VISIT INDONESIA

itu yang menjadi label kebanggaan pemerintah dari tahun ketahun. Sebuah label keluaran kementrian kebudayaan dan pariwisata Indonesia. Bangga rasanya saat pertama kali label itu muncul di tahun 2008, saya sebagai salah satu mahasiswa kriya tekstil yang banyak belajar tentang tradisi dan kebudayaan Indonesia, merasa yah…itu benar….datanglah ke Indonesia..negara yang kaya akan budaya dan tradisi nya, negara yang akan memanjakan kalian dengan beragam pemadangan alam yang elok, iklim yang sejuk dan keunikan artefak budayanya. Pantaslah Indonesia untuk dikunjungi.

Namun tiba-tiba pandangan saya sedikit berubah, ada sedikit keraguan terbersit dalam hati, ketika saya menjadi salah satu panitia kongres Internasional yang diadakan oleh kampus saya (khususnya program studi kriya). Saat itu saya bertugas sebagai panitia akomodasi, ditugaskan untuk mengurusi kedatangan dan kepulangan tamu-tamu asing dari berbagai negara yang hadir dalam kongres tersebut. Negara tamu yang hadir terdiri dari sekitar 12 negara, yang terbanyak adalah dari Korea, kemudian ada dari UK, Thailand, Jepang, Filipina, Turki hingga Mesir. Mereka semua adalah akademisi, praktisi jingga mahasiswa yang bergerak di bidang seni, kriya, tradisi, khususnya dunia tekstil.

Yang menarik dari seluruh rangkaian kepanitian adalah ketika saya ditugaskan untuk mengurus akomodasi hotel tamu dari Mesir dan Turki. Tamu mesir, beliau adalah seorang profesor dari salah satu Universitas negeri di Kairo, usianya sudah lanjut, bisa dibilang dia adalah oma bagi kami semua. Tamu Turki, beliau adalah seorang dosen dari salah satu Universitas di Turki Timur.

Pertemuan saya dengan beliau berdua bukanllah satu hal yang baik untuk dikenang, karena pada awal pertemuan kami, di sebuah hotel di dekat kampus saya, di malam hari, saat itu mereka komplain kepada panitia (khususnya saya) karena mereka ingin extand hari disana namun tidak bisa dikarenakan kamar hotel yang sudah penuh hingga akhir pekan, apalagi saat itu adalah pekan wisuda ITB (yaiyalaaah mana bisa). Setelah melakukan lobi panjang dengan banyak pihak, yang penuh dengan onak dan duri serta tangis darah (lebay), akhirnya mereka masih bisa mendapatkan kamar hotel, Alhamdulillah selesai juga satu permasalahan mengenai keinginan mereka tinggal lebih lama lagi di Bandung (detailnya ga usah di ceritain disini, riet pisan soalna). Oke lanjut ke dua tamu tersebut, ternyata ada beberapa curhatan yang mereka layangkan pada kami (panitia), salah satunya adalah kisah si tamu Mesir (sebut saja si Oma Mesir), saat hari pertama kedatangan dia ke Bandung. Si oma bercerita saat itu dia di dorong oleh seseorang tak dikenal di sekitar jalan Dago, saat si oma mau pergi belanja ke sebuah swalayan, jadilah lutut kirinya mengalami cedera, bukan hanya itu, saat kejadian jatuh tersebut tas si oma sempat ditarik dan dompetnya hampiiiir berhasil dicopet seseorang…haduuuuh udah oma-oma, orang asing, jatuh, hampir di copet pula…ckckckc tega beneeeeer itu orang..

Terdiam saya mendengar curhatannya..mana pada malam itu sempat ada masalah dengan hotel, ditambah lagi saya belum mandi, keringetan, ditambah bau kesang..(hahaha…derita loe)…keadaan pun di dramatisir dengan cerita si oma, yang dengan menggunakan bahasa Inggris ala Mesir nya–yang kadang saya paham dan tidak, membuat suasana makin mencekam…walaupaun sebenarnya si oma bukan marah sama saya, tapi sama pelaku yang mendorongnya hingga jatuh, tapi tatapan matanya yang tajam menusuk ke pupil semakin membuat saya semakin merasa bersalah.

Yap entah kenapa saya jadi merasa bersalah, walaupun bukan saya yang dorong dan mau nyopet si oma, tetap saya merasa bersalah…karena pelakunya adalah orang yang sebangsa dan setanah air dengan saya. Ya tentu saja saya merasa malu dan tercoreng langsung di depan tamu asing tersebut.

Setelah lama berbincang-bincang dengan dibumbui beragam curhatan dari kedua tamu tersebut, suasana pun semakin lama semakin akrab, ketegangan pun sudah tak terlihat lagi, keadaan sudah semakin membaik, yap..saatnya beristirahat malam. karena besok kabarnya mereka mau pergi ke kawah putih. Syukurlah malam itu berakhir dengan baik-baik saja, dengan nyawa saya masih di badan, mata saya masih di tempat seharusnya, hanya sedikit harga diri sebagai bangsa ini tercoret. Sayang sekali….

Namun tetap malam itu menjadi sedikit hangat, kami pun berpisah dengan berpelukaaaan…kebudayaan timur yang hangat.

Esoknya, karena merasa sangat bersalah saya dan teman saya, kembali mengunjungi hotel tersebut, untuk menyambut kedatangan kedua tamu tersebut datang dari wisata alam nya ke Ciwidey. Kami pun berbincang-bincang kembali. Ada sebuah fakta menarik yang saya dapat. Tipikal tamu dari Asia sangatlah unik, bagi mereka means do matter, arti dan filosofi adalah segalanya bagi mereka. Berbeda dengan orang Korea, umur lah yang mereka tanyakan pertama kali, karena age does matter bagi mereka.

Nah, saat itu…hal pertama yang mereka  tanyakan ketika berkenalan dengan saya adalah menanyakan: apa arti dari nama kamu?. Kemudian saat berjalan-jalan hal yang sering ditanyakan adalah, apa arti ini dan apa arti itu, seperti: apa arti atau makna dari DAGO? uwooooow…rasanya seperti ujian kelulusan warga negara.

Hal lain yang menarik dari menyambut dan melayani tamu ini bagi saya adalah ketika saya ditanya banyaaaak hal mengenai Bandung dan Indonesia, peristiwa ini bagaikan sebuah arena mengetes sejauh mana saya mampu menjadi duta bagi negara saya sendiri. Mungkin akan mudah ketika kita ditanya melalui surat, email atau apapun yang tidak berhadapan langsung dengan orang yang bersangkutan, namun ketika ditodong langsung di depan tamu dengan pertanyaan:

“sebaiknya kemana saya (si tamu.red) mau pergi jalan-jalan melihat tradisi kehidupan kota Bandung?”

“tempat mana yang asik untuk melihat sejarah kota Bandung?”

“bagaimana caranya saya bisa sampai ke tempat wisata kawah putih?”

“dimana saya bisa menukar uang saya ke rupiah?”

dan yang paling spektakuler

“berapa jumlah populasi penduduk Indonesia?” — wooow berasa tes psikotes.

hohohohoho…..mantaaabh….seketika kepala saya berputar-putar…mengingat-ingat jawaban yang tepat. Sambil mencoba menjawab pertanyaan, dalam hati saya tiba-tiba tertegun, wah..sejauh mana saya mengenal baik kota Bandung, seberapa dalam saya sudah memahami Indonesia.

Itu semua pertanyaan jatuh untuk diri saya pribadi. Jujur pada saat itu saya masih belum terlalu siap untuk menjadi tour guide yang baik bagi tamu saya saat itu. Mungkin karena ini bukanlah keseharian saya, layaknya tour guide-tour guide lain yang mudah saja menjawab bila ditanya, mengapa begini, mengapa begitu, ini sejarahnya begini, ini artinya begitu. Tapi heeeeey….kamu anak kriya loooh! (ngomong sama diri sendiri)…anak kriya yang sepatutnya sudah banyak belajar mengenai budaya dan tradisi. Yah kalo ditanya apa motif asli dari Jawa Barat atau apa itu angklung sih saya tau, tapi kalo ditanya…bagaimana sejarah DAGO? kenapa namanya DAGO? weits…saya harus nge-googling dulu euy. (dan ternyata fakta tentang asal usul nama DAGO menarik loh).

Kembali ke topik awal…seberapa jauhkah saya siap menjadi duta bagi (minimal) daerah tempat tinggal saya sendiri, yaitu Bandung?. Mau tak mau..siap tak siap…sepertinya saya harus lebih banyak  aware sama banyak hal kecil yang belum saya pahami dari kota Bandung, apalagi saya memang dilahirkan di kota nan (konon) indah ini. Sebelum bertemu dengan tamu-tamu asing tersebut, saya cukup merasa pede dengan pengetahuan saya mengenal kota Bandung, namun ternyata adaaa saja hal yang terlewat dari perhatian saya, yang ternyata mereka (para tamu) perhatikan. Yap itu jadi evaluasi besar untuk saya pribadi, saya harus lebih dalam lagi mengenal apa, bagaimana, mengapa, siapa yang telah membentuk wajah Bandung hingga seperti hari ini.

Teringat lagi kejadian yang diceritakan oleh oma Mesir pada malam itu, maluu saya sebagai warga Bandung dengan kejadian tersebut. Nampaknya warga ini belum siap benar dengan kehadiran orang asing. Kalaupun sudah siap, hanya di beberapa sisi saja, yang memang benar-benar bekerja untuk melayani tamu asing, baik dari sisi pelayanan penginapan, transportasi, tempat-tempat wisata, galeri, dan pemerintahan. Terlebih lagi pekan SEA GAMES 2011 akan dilaksanakan di rumah kita Indonesia, dari sana pasti akan banyak tamu yang datang berkunjung. Tapi bagaimana dengan warga kita? Sudah siapkah kita?. Sebagai tuan rumah tentunya kita ingin memberikan pelayanan terbaik untuk setiap tamu yang datang berkunjung ke negeri kita.

Mari sama-sama tanyakan hal itu pada diri pribadi masing-masing.

Sudah siapkah kita menjadi duta bagi negara kita sendiri?

Siap tidak siap…kita harus siap sedia.

Sama-sama menambah ilmu tentang lingkungan yang telah melahirkan kita,  menjadi rumah kita dan (mungkin) akan menjaga jasad kita ketika raga tak lagi bersatu dengan nyawa.

.aku cinta Indonesia.

 
3 Comments

Posted by on November 3, 2011 in ada apa dengan ITB?, Yang Seru

 

3 responses to “sudah siapkah masyarakat Indonesia menjadi duta bagi negaranya sendiri?

  1. sundariekowati

    November 3, 2011 at 7:20 am

    Subhanallah! Ai nyuruh orang sekantor ikut tepuk tangan deh ya.
    *loh ko malah tepuk tangan bukan tepok jidat?
    eh, maksudnya sama-sama menggali sumur
    eh, menggali lebih dalam tentang Bandung.

    Siapkah kita menjadi Duta Bagi Bangsa Kita Sendiri?
    Hmm, kapan pendaftarannya dibuka y?
    saya mau daftar jadi Miss Duta Bangsa Indonesia, ceu.

    :))

     
    • morinmorefun

      November 3, 2011 at 7:44 am

      hahahaha lebaaay si ai….

      udah..udah di buka kok ai…semenjak kita lahir ke dunia…kita sudah terdaftar resmi jadi duta negara ini..hahaha

       
      • umminaharia

        November 29, 2011 at 7:55 am

        siap gak siap, sebenarnya indonesia musti mempersiapkan diri..mbak🙂 salam knal!
        tulisannya bagus! like it!

         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: