RSS

renungan malam jumat

05 Oct

Hujan besar kemarin malam, membuat sendu suasana pagi ini. Kesenduan pagi ini telah berhasil melambungkan memori ku pada sebuah suasana pagi di sebuah tempat yang aku rindukan, Bandung. Bau tanah basah yang tersiram hujan deras semalam, cuaca dingin lembab yang terasa pada dinding-dinding kayu rumah terasa menusuk kulit, kokok ayam jantan bersahutan dari kejauhan, aroma pagi yang selama ini aku selalu rindukan, aroma pagi di Bandung. Suasana sendu malah membuat ku semakin bersemangat untuk menikmati hari itu.

Hari ini nampak berbeda dengan hari-hari sebelumnya, wajah Labuan Kananga, desa yang sudah hampir empat bulan aku tempati mendadak sendu. Sendu karena basah, basah karena hujan, hujan karena musim barat sudah datang. Dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di desa ini hampir semua orang ramai menceritakan tentang musim barat. Sebuah musim di akhir bulan yang akan membawa kehebohan tersendiri di kampungku. Musim barat bagi desa Labuan Kananga berarti bersiap akan datangnya banjir. Hujan lebat sederas tadi malam akan terus datang, hujan akan membasahi tanah-tanah pasir di desaku, angin akan menggoyangkan pohon-pohon nyiur di pinggir pantai, matahari yang malu-malu muncul akan membuat warga desa semakin enggan keluar rumah, dan suasana desa akan semakin sendu. Namun entah mengapa kesenduan ini menyibakkan sebuah semangat dalam jiwa ini. Sebuah semangat baru untuk terus berjuang menjalani tugasku sebagai seorang penyampai ilmu, seorang guru muda yang belajar memahami makna sebuah hidup. Aku punya waktu satu tahun untuk menggali makna kehidupan disini, satu tahun, tidak bisa lebih dan tidak boleh kurang. Menjadi seorang guru muda di sebuah desa nun jauh dari ibu kota negara ini, desa Labuan Kananga, kecamatan Tambora, kabupaten Bima, provinsi Nusa Tenggara Barat. Bagaimana kisahnya aku bisa “terdampar” disini kisah yang cukup berliku, akan diceritakan di aku ceritakan di kemudian hari.

Kembali pada kesenuduan wajah desa Labuan Kananga di kamis pagi. Kamis merupakan waktu yang istimewa untukku, karena hari kamis adalah waktunya aku mengajar di kelas jauh, di kelas gunung aku menyebutnya, karena memang letaknya di lembah gunung Tambora. Hari kamis adalah hari yang selalu kunantikan karena ketika aku mengajar di kelas gunung, aku juga akan menginap selama satu malam disana. Desa kelas gunung ini sering disebut orang sebagai Doro Le’de, Doro berarti gunung dan Le’de merupakan sebuah jenis makanan yang katanya dulu banyak tumbuh disini, sejenis gandum berwarna putih dan rasanya seperti kentang. Doro Le’de memiliki tempat yang istimewa di hatiku, suasana kampung gunung yang sepi, berbeda dengan desa Labuan Kananga yang cukup ramai, juga masyarakat desanya yang mayoritas orang Lombok selalu membuat hati ini menjadi tentram akan sapaan dan gurauan mereka, walau kadang aku tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan fasih dengan bahasa Sasak mereka. Selain itu, banyaknya keterbatasan di doro le’de membuat aku semakin mendalami arti dari sebuah kehidupan dan penghidupan. Untuk mencapai ke doro le’de dibutuhkan waktu sekitar setengah jam dari Labuan Kananga, menggunakan motor, melewati jalan-jalan keci di antara kebun, hutan dan juga jurang, mendaki hingga sampai di pemukiman warga. Di dusun kecil ini, listrik belum mengalir, sehingga malam akan terasa sangat syahdu, air didapat dari pipa-pipa yang diambil langsung dari gunung, sehingga wajar saja ketika pipa mampet, maka selama berhari-hari warga disini tidak akan mandi, kecuai kalau pergi ke sungai. Deretan pohon jambu mete akan siap menyapa siapapun yang hadir di dusun ini, ditambah aromanya yang kecut-kecut manis, satu lagi hal paling menarik dari dusun ini adalah ketiadaan wc tertutup, sehingga bila ingin buang air besar alias double E, aku harus mencari tempat pertapaan di antara semak-semak dan rimbunnya pohon pisang di belakang rumah yang aku tinggali, dalam catatan sejarah selama empat bulan aku sudah berhasil melakukan penggalian lubang “buaya” selama lima kali. Hahaha..sebuah catatan sejarah yang mengagumkan dan kemungkinan akan terus bertambah. Terdorong rasa untuk melakukan pembenahan masalah kakus di dusun ini, pelan-pelan aku beajar dan mencoba berbincang dengan warga, itu jadi PR-ku juga selama disini.

Disinilah aku sekarang, disebuah gubuk kayu kecil, di tengah hutan, ditemani oleh tarian api kecil dari lampu minyak pinjaman dari ibu angkat disini. Sesekai terdengar dentingan lonceng kalung sapi dan nyanyian jangkrik malam. Disiniah aku sekarang di hadapan sebuah laptop pinjaman dari yayasan ku, mencoba berbagi cerita dengan kerabat di seluruh peosok negeri. Tulisan ini akan coba aku unggah malam ini juga, di tengah malam, di sebuah spot sinyal terkuat, makum disini sinyalnya timbul tenggelam, tidak seperti sinyal di desa Labuan Kananga. (Tidak berhasil karena spot sinyal terkuat ada diuar rumah). heuheu

Mulai hari ini aku akan bercerita banyak hal mengenai desaku, anak-anakku dan segala macam pengalamanku disini. Waktu sudah menunjukkan pukul 23:56 disini, sudah saatnya pergantian hari. Sudah saatnya pula aku beristirahat untuk bangun di pagi hari dan kembai ke sekoah bertemu dengan anak-anak cerdas di Doro Le’de ini. Tak sabar rasanya meihat senyuman mereka ketika meminta saya untuk datang ke sekolah, juga wajah semangat mereka di akhir kelas ketika mereka memaksa saya untuk memberikan PR. Hahaha…anak-anak disini memang cerdas, mereka haus akan ilmu, mereka selalu ingin tahu seisi dunia, mereka suka tantangam, anak Indonesia yang cerdas. Semoga semangat mereka tak kan pernah untur hingga akhir jaman.

                Doro Le’de, 4 Oktober 2012

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: