RSS

Tekadku Dulu, Kini dan (mungkin) Nanti

19 Apr

Duduk santai sambil menyilangkan kaki di atas kursi kayu meja guru. Haaaaah begitu nikmatnya. Diluar kelas hujan turun begitu derasnya, ya..saking derasnya sang hujan, berhasil menahan saya di sekolah ini, sekolah yang sudah bersamaku selama 10 bulan ini. Aku belum bisa pulang kerumah orang tua angkat ku. Anak-anak kubiarkan bermain bersama kertas dan pewarna yang kubawa dari rumah. Aku berusaha menikmati waktuku berdua bersama laptopku, tak pernah terpikirkan dalam hidupku aku ada disini. Disini bersama anak-anak suku sasak, yang tinggal di kaki gunung Tambora, di sebuah dusun bernama Doro Le’de.

Sewaktu kecil aku punya cita-cita jadi seorang arsitek, ingin bangun masjid agung terbesar se-Asia Tenggara di kota kelahiranku, Bandung. Cita-cita itu tetap ada di dalam dada hingga aku beranjak besar dan bersekolah di SMA. Saat itu semuanya berputar, masa depanku di depan mata. Singkat cerita keinginan untuk membangun masjid agung harus tertunda, aku bilang tertunda karena mungkin suatu saat akan tercapai, saat ini aku sedang menjadi guru di salah satu SD di kabupaten Bima, tepatnya di pesisir pantai desa Labuan Kananga. Orang-orang bilang SD ini SD terpencil, karena jaraknya yang jauh dari kota, namun kini bagiku terpencil adalah ladang ber-potensi sumber daya luar biasa kaya yang belum tergali, belum ada usaha eksplorasi di dalamnya, eksplorasi bukan eksploitasi. SD ku ini teretak di kecamatan Tambora, kecamatan Tambora memiliki jutaan hektar sabana, ribuan hektar ladang subur dan ratusan spesies tumbuhan dan binatang yang hidup didalamnya. Pertama kali menjejakkan kaki disini dan melihat indahnya Tambora, aku hanya bisa berucap Indonesia sangatlah kaya, luar biasa kaya, kata siapa Indonesia miskin.

Kembali pada meja kerjaku, aku kini adalah seorang guru. Tugasku kini adalah mengajarkan mereka semua tentang dunia dan yang paling utama adalah mendidik anak-anakku untuk menjadi anak yang berkarakter baik, woooow berat banget ya booo. Tidaklah mudah mendidik anak ternyata, apalagi mengajarkan karakter yang baik, gurunya berarti haruslah baik juga. Aku apalah aku, hanya manusia biasa yang diberi kesempatan oleh Allah untuk menjalankan amanah ini, dipercayakan untuk mengemban tugas ini. Apakah ini sebuah kebanggaan? Sebuah kehormatan? Bagiku ini adalah sebuah ujian keikhlasan dalam hidup, sebuah amanah dari Allah. Sepuluh bulan telah aku lalui, berbagai kejadian dan peristiwa pernah aku lalui, naik turun kondisi ke-iman-an ku, pasang surut semangatku. Tak ada kata kembali yang ada hanyalah perbaiki, luruskan kembali niat dan tetap semangat jalankan ikhtiar apapun yang terjadi. Karena jalan ini adalah jalan yang dipilihkan oleh Allah untukku, tak ada yang pernah memaksaku untuk berada disini, tak satupun yang pernah. Hanya ada aku dan Tuhanku. Setiap pilihan ada konsekuensi nya, setiap pilihan ada hikmahnya.

Pikiraku terus melayang-layang mengingat-ingat apa saja yang telah aku lakukan selama 10 bulan ini, melihat layar laptopku berubah menampilkan foto-foto selama 10 bulan membuatku semakin pilu, hujan semakin deras semakin menambah suasana syahdu dalam kelas yang kini hanya dihuni oleh aku dan satu anakku yang sedang teridur di atas meja. Kupandangi satu-satu foto itu, kulihat siapa saja yanga ada didalamnya, kuingat-ingat kembali kejadian-kejadian selama beberapa bulan lalu. Kulihat ada keluarga angkatku, ada anak-anakku, ada teman-teman satu penempatanku dan tentunya ada aku. Ya itu aku. Aku rindu masa-masa aku dulu kala. Aku ingat kembali tujuan pertamaku datang kesini. Aku ingat kembali apa yang sedang aku lakukan saat ini.

Aku senang

Anak-anakku pernah menarikan tarian tradisional mereka di depan turis-turis asing di desa.

Anak-anakku kini mengenal apa itu sholat dhuha, dan mau memulai pelajaran dengan datang dulu ke mushola.

Anak-anakku yang kelas 2 kini sudah bisa membaca cerita panjang.

Anak-anakku kini tahu kalau warna merah dicampur dengan warna kuning maka akan menghasilkan warna oranye.

Tapi aku pun tiba-tiba merasa sedih,

Aku belum bisa membawa anak-anakku melihat dunia, bahkan melihat kota Bima saja belum bisa.

Aku belum bisa meningkatkan standar ketuntasan mereka.

Aku belum bisa membuat SD ini punya prestasi

Aku belum…

Aku belum…

Aku belum…

Masih banyak sekali kata ‘aku belum’ yang bisa aku tuliskan di sini.

Haaaaaaaaaaaaaa…………

Kelas mendadak sepi, satu anak yang tertidur tadi kini sudah pulang, menembus hujan. Tinggal aku sendiri dalam kelas tak berdaun jendela dan tak berdaun pintu ini.

Kadang aku berpikir aku kini bukan diriku, aku kini bukan Morin yang dulu lagi. Berubah layaknya sailor moon, tapi ini sailor moon yang berubah mak lampir, tak jelas berubah ke arah mana. Hahaha….

Setiap orang pasti akan berubah, entah itu ke arah baik, atau ke arah yang kurang baik. Aku berusaha menyadarkan diriku, aku harus kembali menjadi baik, kembali menjadi Morin. Morin yang punya prinsip hidup dapat membuat bahagia orang sekelilingnya, menangis dengan tertawa, morin yang ceria, morin yang bersemangat, morin more fun! Hahahaha…..

Aku bisa, aku pasti bisa, aku pasti bisa, apapun peranku saat ini, menjadi seorang murid, guru, dosen, teman, sahabat, kakak, adik, anak….Aku bisa menjadi lebih baik. Ku berdoa selalu, mohon dikuatkan hati ini, untuk tetap ikhlas, kapanpun dimanapun berada, untuk ikhlas, ikhlas…dan iklhas…

Inilah tekadku

Bismillahhirrahmanirrahiim….

Morin, 19 April 2013

Kelas Jauh, SDN 1 Labuan Kananga, Dusun Doro Le’de.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: